29 Januari 2008

Sedang sedih


Saya sadar bahwa saya bukan siapa-siapa. Bukan seorang politikus, ekonom, atau penyandang status penting lainnya. Saya bukan orang yang terlalu penting di hadapan publik. Saya hanya seorang illustrator yang hidup di belakang layar sebuah surat kabar skala nasional. Yup, bekerja sebagai artis atau juru gambar yang tugas utamanya menghidupkan sebuah tulisan.

Bekerja sebagai illustrator banyak untungnya. Saya bisa mendapatkan banyak informasi dari luar. Karena mau tidak mau naskah yang masuk juga harus saya baca (meski hanya sekilas). Ada isu pilkada, ada tema pendidikan, politik, tapi kadang juga kriminal.

Halaman demi halaman alhamdulillah pernah saya taklukkan. Mulai dari yang sangat tidak penting hingga yang bisa dibanggakan. Sebut saja, misalnya proses pembuatan grafis People of The Year 2007 kemarin. Kemudian malam harinya setelah Pak Harto meninggal (27/01/2008) saya juga membuat grafis peta "rute alternatif dari bandara Adisumarmo ke makam Astana Giribangun".

Sebagai catatan tambahan, kematian Pak Harto menurut saya terlalu di blow up oleh media. KONTRAS mengkritik habis soal ini(detikdotcom). Mereka menambahkan, ini bisa mengakibatkan publik melupakan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Pak Presiden pasrah, matanya tampak berkaca-kaca sebelum memberikan pidato pemakamannya. Beliau mengeluarkan sebuah kebijakan; tujuh hari kedepan kantor-kantor atau instansi di seluruh Indonesia wajib memasang bendera merah putih setengah tiang selama tujuh hari untuk mengenang jasa-jasa Pak Harto.

Kok tujuh hari? ada apa dengan angka ganjil? Islam banget ya. Kalo versi teman saya; NU banget ya. Momen tujuh hari berkabung ini juga tidak disia-siakan oleh mereka yang punya ide kreatif. Mereka menjual bendera-bendera itu di pinggir jalan, mirip seperti momen agustusan. "Semoga laku keras ya, Pak", doa saya.

Keluarga Cendana sedang dilanda duka. Demikian juga saya. Illustrator lama (senior) saya sudah tidak ada lagi. Dia mengundurkan diri dari perusahaan untuk mengadu nasib di perusahaan baru yang (mungkin) lebih baik dari sebelumnya. Saya sedih sekaligus merasa tertantang. Karena kedepan tenaga kreatif saya bakal dibutuhkan. Menghajarnya lagi, halaman demi halaman. Lagi dan lagi...

3 komentar:

Ndoro Seten mengatakan...

Sedih sih boleh, tapi yo sakcukupe wae.....
Ojo kebablasen!

evan mengatakan...

Yo wes selamat jadi ilustrator (yang dipaksa jad) senior.hahaha

Anonim mengatakan...

Makanya bos,

Jangan lupakan corel art gallery, ketika ada saat dimana harta, keluarga & teman nggak bisa ngebantu u. Corel art Gallery siap menemani sampeyan kemana saja.

Ocree boss.

Pisss Ahh