08 Januari 2008

Pengamen dan Amplop


Tahu nggak arti pengamen? di wikipedia Indonesia kata "pengemen" ternyata belum menyediakan terjemahan atau definisinya. Barangkali pengamen adalah nama istilah saja, yakni pekerjaan mencari uang dengan cara menyanyi atau menghibur orang lain.

Pengamen yang saya temui banyak yang kreatif, tapi ada juga yang sadis karena cara minta uangnya memaksa. Misalnya dengan mengeluarkan kalimat seperti ini; "Kami tidak memaksa kok, tapi doa selamat kami hanya untuk mereka yang memberi". Atau kalimat lain; "Seadanya deh, Mas. Kalo uang besar juga nggak papa, nanti kita kasi uang kembaliannya". Busyet, kayaknya si pengamen naas banget hari ini. Kalo kamu penasaran sama kejadian seperti ini, naik aja kereta atau bus kelas enkonomi jalur antar kota. Biasanya banyak terjadi. Sudah tempatnya nggak nyaman, nggak aman lagi. Itulah dunia kecil Indonesia.

Kalau pengamen yang kreatif seperti apa? Mereka adalah pengamen yang menyanyikan lagu peterpan dengan dua bahasa. Satu bahasa Indonesia dan satu lagi bahasa asing, entah bahasa apa itu. Kayaknya sih bahasa Arab, soalnya dia fasih banget dalam melafalkannya. Kostum yang dia pakai juga tidak gembel(bukan berarti baju baru), gayanya seperti anak muda Ibukota pada umumnya.

Lain hari saya menjumpai model baru lagi. Dia berpuisi di atas bus. Menurut saya sih bukan puisi karena isinya adalah sindiran bagi mereka yang tidak memberi uang. Bahasanya tidak karuan, penuh bualan. Tidak ada yang indah pokoknya. Kostumnya juga asal-asalan. Awalnya saya mengira dia seorang penumpang, ternyata bukan. Yang jelas bukan seorang seniman. Dia adalah pengamen yang asal-asalan, tidak menghibur tapi justru mengacaukan suasana.

Satu lagi nih, entah disebut pengamen atau bukan. Pakaiannya layaknya santri. Kalo laki-laki mengenakan peci lengkap dengan baju kokonya. Kalo perempuan dia pasti mengenakan kerudung sebagai busana pendukungnya. Lalu mereka menyodorkan amplop tertutup bertuliskan Yayasan, Panitia Masjid, Panti Asuhan dan semacamnya. Skenario dimulai.

"Assalamu'alaikum wr wb, Alhamdulillahirabbil'aalamiin, Wabihii nasta'iin, 'alaa umuuriddunnya waddiin, dst...". Kemudian dia memberikan sedikit pengantar (semi ceramah) dimana isinya itu; Tuhan mencintai orang-orang yang beramal, bahwa sodara-sodara di luar sana masih membutuhkan uluran tangan, bahwa jalinan sosial harus tetap terjaga dan bla bla bla. Lima menit kemudian mereka mengambil kembali amplop-amplop yang telah dibagikan. "Terimakasih dan wassalaamu'alaikum wr wb". Mereka turun dari Bus.

Pantas nggak sih agama sampai "dikemas" sedemikian rupa?

2 komentar:

Anonim mengatakan...

yah,,,sama,,,saya juga berpikir begitu
hehehehehee...ko tau2 ngomong pake bhs resmi ya/

gini,,,saya juga aga ga suka sama hal begitu. gmn ya,,masa bawa2 agama bwt meminta. sebenarnya cara begitu juga bikin malu agama ya kan?

apalagi kalo sampe ketauan kalo ternyta itu cuma pura2 supaya orang kasian,,,waduh,,,kalo sampe terbongkar yang malu juga agama yang dibawanya,,,,

aduh,,,,abis dah,,,,

anwarchandra mengatakan...

ijin ngambil gambar