24 Februari 2008

Komunikasikan pada Komunikan



Sebuah stiker kecil menempel di lemari. Beberapa kata terangkai indah dalam sebuah pesan moral berbunyi kurang lebih demikian; "kulumlah kata-katamu sebelum kamu mengatakan sesuatu". Saya terhenyak, serentak diam sejenak. "Sepertinya benar juga ya kalimat ini", bisik saya dalam hati.

Saya lalu berniat untuk belajar dari kalimat ini. Tidak jarang kesalahan muncul dari mulut saya, baik spontan atau akibat letupan emosional. Kurangnya kontrol diri dan pikiran jernih terkadang menimbulkan "iritasi hati". Kebohongan putih keluar sedikit demi sedikit. Menipu tapi tidak menipu. Apa itu?

Saya bukan anak mami yang hidup dalam kemapanan, bergelimangan harta. Pikiran saya suka berontak dan keluar dari kebiasaan. Saya sadar terhadap pilihan hidup seperti ini. Tidak kecil resiko yang harus saya terima nantinya, karena berbeda dengan konsep hidup orang lain. Apakah ini akibat saya sering kumpul dan menerima banyak pemikiran saat dulu masih tinggal di kota hujan? saya tidak tahu pastinya. Tapi saya tahu bahwa menerapkan hidup idealis saat ini belum cocok bagi saya.

Pernah saya mengidentifikasi siapa diri saya sebenarnya. Semakin dicari rasanya semakin tidak karuan hasilnya. Mungkin karena beban pikiran akibat medan hidup yang terjal dan rintangan yang selalu menghadang. Contohnya tempo hari; saat saya memutuskan untuk segera menyelesaikan studi saya. "Berani diwisuda berarti berani jadi pengangguran", begitu kata teman-teman saya. Sedikit menakutkan memang menyandang gelar sarjana. Ada beban moral, karena mau tidak mau kita nantinya harus siap terjun dan menghadapi masyarakat yang plural. Banyak pemikiran dan pola hidup yang sangat berbeda dengan kita saat hidup di lingkungan akademis. Seperti terlahir kembali. Semakin bodoh rasanya setelah menjadi sarjana.

Apa yang saya dapatkan kemarin saat masih belajar di kampus yang dekat dengan Hugo's Cafe itu? Belajar gaul dengan dunia malam kah? atau belajar berkomunikasi dan menyampaikan pendapat kepada orang lain? bah... naif sekali ya hasilnya. Itu mungkin sebagian kecil saja. Tapi yang jelas saya tidak akan pernah berhenti belajar sampai dirasa siap menghadap Tuhan. Kapan itu? besok atau lusa tidak tahu saya.

Langkah hidup akan saya coba tata rapi kembali. Kemana saya akan pergi? untuk apa saya berbuat dan berkehendak? untuk siapa saya hidup? Baiklah, sepertinya bakal ada prosesi panjang saat kontemplasi nanti

3 komentar:

Ridu mengatakan...

wew.. selamet menganggur yah! hehehe..

btw itu hugo's cafe yg mana yah?? jdi penasaran!

Ok semangat! Rejeki sudah ditetapkan sama Tuhan,, jadinya yg terpentign kita berusaha !!

antown mengatakan...

tidak, kebetulan Tuhan memberikan saya peluang. Beberapa minggu setelah saya wisuda saya sudah kerja, sebagai freelancer sih.
Tapi sekarng saya sudah di Ibukota,bekerja si sebuah media. Tuhan masih sayang kok heheh...

hugos malang maksudnya

BUKAN SENIMAN mengatakan...

endi sing industri kematian
kok ra sido