07 Februari 2008

Ilustrator, Kebebasan dan Kreatifitas


Pagi ini setelah browsing ke blog teman-teman, saya dapat link situs ke majalah TEMPO. Saya masuk aja kesana. Ada pembicaraan hangat seputar cover Majalah Tempo edisi terbaru, yang terbit tanggal 10 februari 2008 besok. Pada sampul itu menggambarkan Soeharto dan anak-anaknya sedang makan bersama untuk terakhir kalinya (tampak piring dan mangkuk kosong tidak ada isinya). Gambar itu mirip lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci.

Akibat dari sampul ini, sejumlah orang dari perwakilan katolik datang ke redaksi untuk meminta penjelasan, sedangkan Persatuan Pelajar (Mahasiswa) Indonesia di India ikut protes dan meramaikan via milis.

Bukan permasalahan saya ikut protes atau tidak, tapi saya melihat disini betapa kita sebagai bangsa Indonesia mudah sekali untuk gusar (atau brutal) saat melihat kebebasan pers itu sendiri. Katanya demi memperjuangkan kebebasan saja sudah mati-matian. Lha kok sekarang ada majalah dengan sampul seperti itu saja sudah dibawa ke hal-hal yang serius?

Saya pikir itu bukan hal yang penting untuk diperdebatkan. Ayo kita perbincangkan ramai-ramai perihal kreatifitas dan proses pembuatan di balik itu. Ada lagi yang bilang katanya itu membajak karya Kang Da Vinci. Mana mungkin? itu namanya terinspirasi, bukan membajak. Emang DVD bajakan?

Membuat sebuah cover itu butuh waktu lama lho. Tidak gampang. Desainer atau illustrator harus menggali ide banyak, melakukan diskusi dengan para ahli, melakukan penelitian (jika dirasa perlu). Jadi, karya sampul di sini saya pikir termasuk karya seni. Fungsinya selain untuk memperindah sebuah media juga untuk menarik calon pembeli nantinya. Lha kalau kebebasan saja masih dikekang, gimana nasib ilustrator nantinya?

Sampul tersebut menurut saya tidak menyinggung isu agama (maaf sebelumnya). Karena sama sekali beda dengan apa yang digambarkan sama Kang Da Vinci dengan The Last Suppernya. Mirip? mungkin iya. Tapi justru menarik. Sungguh-sungguh menarik.

13 komentar:

Amel mengatakan...

Kunjungan balik..

Wah wah, memang tiap org it punya respon yg brbeda..Yah, nm ny jg org, ga suka ap protes.. Susah jg tu jd ny ngebedain kebebasan sm kreativitas yah..

Anonim mengatakan...

punten ya, mau ikut komentar. kalo menurut saya covernya ga sama tuh dengan Last Supper. mungkin ada kemiripan, tapi benang merahnya tetep beda.
bisa jadi yang buat cover ini emang terinspirasi sama lukisan itu. cover ini jadi polemik kayaknya karena pake teknik lukisan gt. kalau pake teknik karikatur atau foto pasti ga jadi masalah.

Komang Satria mengatakan...

Memang tidak sama tapi untuk orang yang memiliki pengalaman kristiani maupun seni mungkin mengenalinya sebagai 'plesetan' dari the last supper. Dan posisi ditengah tersebut adalah posisi Jesus, sosok pusat dari iman kristiani. Pak Harto sendiri posisinya masih kontroversial, sebagian memandang beliau sebagai sosok korup, diktator, tiran. Sebagian memandang beliau sebagai Bapak Pembangunan dengan jasa besar. Sekarang kalo dalam lukisan tersebut Pak Harto kan diposisikan seolah sebagai Jesus Christ, dengan anak2nya sebagai murid2nya. Jelas saja penggambaran ini bisa menyinggung sebagian umat kristiani (mungkin juga muslim karena Isa adalah nabi orang muslim juga kan?) bagi yang melihat sosok Pak Harto dalam cermin negatif. Tokoh panutannya digambarkan sama dengan seorang 'tiran'???
Apa bebas berarti bebas untuk menyakiti atau menyinggung orang lain? Demi oplah kita bebas menghujat orang lain? Demi kreatifitas kita bebas membunuh karakter orang lain?
Ada baiknya ditimbang2 dulu sebelum kreatifitas kita mengganggu orang lain.
Dipikir2 toh protes pun bentuk kebebasan juga kan? Jadi kalo mau bebas berkreatifitas di wilayah yang sensitif ya siap juga untuk dengan bebasnya didemo dan dihujat orang lain yang tidak sepaham.

Salam,
Komang

adhi mengatakan...

kebebasan maupun kreatifitas bisa jadi tanpa batas yang pasti.

Kemiripan maupun pengulangan akan ada karena imajinasi kita dalam berkreasi tidak lepas dari sejarah maupun yang ada di sekitar kita.

pastinya ada pro kontra untuk setiap hasil karya... dan memang untuk itu. tinggal kitanya sebagai pembuat harus siap dengan segala resiko.

kalo mau disalahkan ya bukan dari sisi pembuat, tapi dari quality controlnya yang mempublikasikan...

bagi saya sendiri, saya menikmati hasil karya dari segi keindahan...

wassalam
adhi

antown mengatakan...

Ada teman saya yang kemudian menanggapi. Ternyata si pembuat cover melupakan 5W+1H. Dia hanya berpikiran "How" saja. yaitu bagaimana cover itu menjadi sensasi, dan banyak dibicarakan orang. Sehingga kemudian laku keras.

LiSan Skywalker mengatakan...

Kan makin kontroversial makin seru dan makin laku... ^o^

m mengatakan...

ah...soeharto udah out ini...
Mendingan hasil keuntungan jualan kover ini buat ngasih makan org2 yg kelaparan...fair kan...

"Ideologi mengalahkan kebenaran hakiki yg terjadi disana-sini jika tidak melihat situasi..."

antown mengatakan...

...menghadapi sindiran semacam itu saya dan kita seharusnya senyum (walau muka memerah) dan bukannya
marah-marah. Apalagi tanpa membaca laporan yang ada di balik cover majalah itu.
Sebab itu saya sama sekali tidak tersinggung dengan cover Tempo yang mengambil inspirasi dari lukisan terkenal Leonardo Davinci. Malah saya bersyukur...

(Dikutip secara lengkap dari tulisan Pdt Daniel Taruli Asi Harahap dengan judul yang sama yang dimuat di www.rumametmet. com, 6 Februari 2008)

Jiewa mengatakan...

Saya sih melihat ini sbg kreatifitas, walaupun 'nakal', tapi tidak kronis :D

fiek mengatakan...

ga nyaman banget ya kreativitas di negeri ini. pasti ada protes dan gugatan. tapi, biasanya selalu mentok ketika dibayari dengan sejumlah uang...banyak sih yang punya obsesi menguras uang, tapi dalam kasus ini saya sama sekali tak tau, apa faktor uang ikut bermain?

fiek mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
regina_lie mengatakan...

Mungkin yang menyebabkan kontroversi karena Soeharto yang nota bene punya buanyak banget daftar dosa (yang gak setuju sih silakan..... hehehe) disamakan dengan Jesus (yang merupakan juru selamat bagi orang Kristiani .....). Menurut saya sih kreativitas itu sah-sah saja dan kontroversinya sih yah harus diterima sebagai konsekuensinya. Tul gak?????
kunjungi blog ku
reginamind.blogspot.com
consulturprob.blogspot.com
(hehehe gantian numpang nih)

aklam mengatakan...

heheheh bagus mas, saya malah baru tahu... menarik!