10 Januari 2008

Tuhan, Aku Bisa Terbang



Kalau punya sayap enak kali yak? bisa terbang bersama kawanan burung. Melihat isi alam semesta, atau sekedar memperhatikan tingkah ulah manusia yang sedang bercengkrama dengan dunianya.

Tapi Aku saat ini sedang terbang di sebuah ruangan besar. Mirip seperti gedung olahraga basket atau futsal. Ruangan ini biasanya juga disewakan untuk menghelat pertunjukan musik, misalnya konser Agnes Monica atau Dewa.

Mereka semua yang ada di bawah menatapku seraya berkata "Hai, bagaimana mungkin kau bisa terbang? sementara banyak orang di sini dibuat keheranan, melihat engkau yang merayakan sukacita di atas sana?"

Sesaat Aku terdiam, masih di atas. Aku masih menghempaskan energi yang muncul dari dua kaki. Aku turun. Semuanya hening. Tidak menyapa sepatah kata. Seakan tidak ada yang mengenaliku.

Hari ini Aku merasa bukan lagi manusia.

08 Januari 2008

Pengamen dan Amplop


Tahu nggak arti pengamen? di wikipedia Indonesia kata "pengemen" ternyata belum menyediakan terjemahan atau definisinya. Barangkali pengamen adalah nama istilah saja, yakni pekerjaan mencari uang dengan cara menyanyi atau menghibur orang lain.

Pengamen yang saya temui banyak yang kreatif, tapi ada juga yang sadis karena cara minta uangnya memaksa. Misalnya dengan mengeluarkan kalimat seperti ini; "Kami tidak memaksa kok, tapi doa selamat kami hanya untuk mereka yang memberi". Atau kalimat lain; "Seadanya deh, Mas. Kalo uang besar juga nggak papa, nanti kita kasi uang kembaliannya". Busyet, kayaknya si pengamen naas banget hari ini. Kalo kamu penasaran sama kejadian seperti ini, naik aja kereta atau bus kelas enkonomi jalur antar kota. Biasanya banyak terjadi. Sudah tempatnya nggak nyaman, nggak aman lagi. Itulah dunia kecil Indonesia.

Kalau pengamen yang kreatif seperti apa? Mereka adalah pengamen yang menyanyikan lagu peterpan dengan dua bahasa. Satu bahasa Indonesia dan satu lagi bahasa asing, entah bahasa apa itu. Kayaknya sih bahasa Arab, soalnya dia fasih banget dalam melafalkannya. Kostum yang dia pakai juga tidak gembel(bukan berarti baju baru), gayanya seperti anak muda Ibukota pada umumnya.

Lain hari saya menjumpai model baru lagi. Dia berpuisi di atas bus. Menurut saya sih bukan puisi karena isinya adalah sindiran bagi mereka yang tidak memberi uang. Bahasanya tidak karuan, penuh bualan. Tidak ada yang indah pokoknya. Kostumnya juga asal-asalan. Awalnya saya mengira dia seorang penumpang, ternyata bukan. Yang jelas bukan seorang seniman. Dia adalah pengamen yang asal-asalan, tidak menghibur tapi justru mengacaukan suasana.

Satu lagi nih, entah disebut pengamen atau bukan. Pakaiannya layaknya santri. Kalo laki-laki mengenakan peci lengkap dengan baju kokonya. Kalo perempuan dia pasti mengenakan kerudung sebagai busana pendukungnya. Lalu mereka menyodorkan amplop tertutup bertuliskan Yayasan, Panitia Masjid, Panti Asuhan dan semacamnya. Skenario dimulai.

"Assalamu'alaikum wr wb, Alhamdulillahirabbil'aalamiin, Wabihii nasta'iin, 'alaa umuuriddunnya waddiin, dst...". Kemudian dia memberikan sedikit pengantar (semi ceramah) dimana isinya itu; Tuhan mencintai orang-orang yang beramal, bahwa sodara-sodara di luar sana masih membutuhkan uluran tangan, bahwa jalinan sosial harus tetap terjaga dan bla bla bla. Lima menit kemudian mereka mengambil kembali amplop-amplop yang telah dibagikan. "Terimakasih dan wassalaamu'alaikum wr wb". Mereka turun dari Bus.

Pantas nggak sih agama sampai "dikemas" sedemikian rupa?

04 Januari 2008

Peta Kehidupan

Pernahkah kita merencanakan masa depan? Pernahkah kita merancang konsep kehidupan seperti menulis sebuah buku atau novel? Barangkali itu akan memakan waktu yang lama dan berakibat sia-sia.
Ngomong soal cita-cita nih. Cita-cita saya dulu sering berubah semenjak umur bertambah. Pilihan cita-cita rasanya sangat terbatas. Hanya beberapa diantaranya yang masih saya ingat; misalnya ingin jadi dokter (seringkali menempati urutan awal), jadi insinyur, jadi pilot, jadi guru. Mungkin itu-itu saja. Tidak ada teman kecil saya yang mengatakan: "aku ingin jadi pengusaha".
Tambah beberapa tahun lagi penamaan cita-cita itu kian bertambah. Tapi, tetap saja. Sepertinya ada yang mengatur bahwa cita-cita itu harus setinggi langit, mulia, berguna bagi bangsa dan negara. Tidak boleh atau jangan sampai punya cita-cita yang sederhana, misalnya jadi tukang becak. Siapa sangka bahwa penarik becak bisa juga jadi kaya, juga bisa berarti mulia karena menjual jasa. Mengaqntarkan orang kesana kemari?
Pernah dulu saya kepingin menjadi pelukis, tapi akhirnya saya menghentikan niat tersebut, karena saya tahu bahwa profesi itu sering mempertaruhkan kehidupan. Dan sepertinya kurang cocok terhadap kepribadian saya. Masa depan yang saya rancang sejak dini menjadikan kehidupan saya serasa berbeda. Meskipun masa depan hari ini masih kasat mata nun jauh di sana.
Semua orang pada dasarnya ingin bahagia, ingin hidupnya sejahtera, berkecukupan dan tidak bermasalah, lalu masuk surga. Pada opsi yang terakhir, mungkin itu cita-cita saya sekarang.

02 Januari 2008

Gobl*k


Gobl*k
Menurut saya gobl*k adalah
(1) SUDAH BERTANYA TAPI MASIH TERSESAT DI JALAN
Mungkin karena terlalu lama hidup di kampung dan tidak menyempatkan jalan-jalan keluar kota
(2) MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN, APALAGI DI SUNGAI
Katanya kita sudah mulai peka lingkungan, katanya kita sudah menjunjung tinggi isu global warming
(3) TIDAK MAU KAWIN DENGAN LAWAN JENISNYA
Emang enak main pedang-pedangan? emang enak main tusuk-menusuk? hehe..
(4) BUANG-BUANG WAKTU UNTUK URUSAN YANG TIDAK JELAS
Masih mending kalo hobi main catur, ada yang dipikirin.
(5) HABIS MAKAN NGGAK MINUM
Mumpung air masih banyak tuh. Sekarang kan lagi musim hujan. Jangan nyiksa diri deh
(6) DAPAT SMS PENTING TAPI SENGAJA GAK DIBALAS
Semprul!! sibuk banget sih. Padahal sama temen sendiri.
(7) SOPIR ANGKOT YANG MENURUNKAN PENUMPANG PAS LAMPU HIJAU
Ini yang bikin jalanan tambah macet. Hampir tiap hari kejadian ini saya temui. Apa nggak ada alasan lain selain demi ngejar setoran?
(8) MENYEBERANG PAS LAMPU HIJAU
Kalo mau kreatif bukan gini caranya. Kalo ketabrak ntar siapa yang disalahin. Mbok ya sabar sebentar napa?
(9) TIDAK MAU BELAJAR DARI KESALAHAN
Kemarin sudah salah, eh sekarang salah lagi. Manusia memang tempat salah dan lupa, tapi sudah sepatutnya manusia bisa merubah dirinya sendiri.
(10) TIDAK MAU MENERIMA SARAN DAN KRITIK DARI ORANG LAIN
Kapan bisa maju kalo semua dinilai dari diri sendiri. Terkadang kritik itu pedas, tapi sehat loh!!
(11) TAKUT DENGAN MITOS ANGKA TIGA BELAS
Sampai-sampai nomor rumah nggak ada, lantai di gedung tempat kerja saya juga gak ada. Tapi kalo nomer hape saya nggak pernah ngecek sih.
(12) MENILAI DIRINYA SENDIRI SEBAGAI PRIBADI YANG PALING UNGGUL
Jangan terlalu pede dong. Ya jelaslah semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Mana ada yang sempurna di dunia ini. Emang lu siapa? Emang kamu punya dua penis? enggak kan..?

26 Desember 2007

Kaji


Kemarin, rombongan haji kloter pertama dari Semarang sudah kembali ke Tanah air dengan selamat. Selanjutnya jamaah haji ini tidak akan bisa berangkat lagi karena kuota haji hanya sekali seumur hidup. Demikian informasi yang saya dapatkan beberapa minggu yang lalu.

Gelar haji didapatkan oleh seseorang yang telah menunaikan ibadah haji di tanah suci; Mekkah. Sebagian orang menilai gelar itu cukup berat untuk disandang, sehingga mau tidak mau orang tersebut dituntut untuk menjaga segala perilakunya dalam kehidupan sosialnya--supaya nama baiknya tidak tercemar dan dia mendapatkan kemabruran atas ibadah yang telah dilakukan.

Barangkali sudah lumrah terjadi pada kehidupan sosial masyarakat kita, kalau yang kaji (baca: haji) itu laki-laki akan dipanggil abah sedangkan untuk perempuan akan dipanggil Umi'. Percayakah anda bahwa di daerah asal saya ada seseorang yang dipanggil Kaji pindang, Kaji daging, atau kaji-kaji yang lain. Julukan itu muncul begitu saja dari mulut masyarakat setempat yang semata-mata hanya untuk membedakan antara kaji satu dangan kaji yang lain.

Bayangkan, jika dalam 10 deret rumah saja ada empat orang yang sudah kaji. Kira-kira bagaimana cara yang tepat untuk memanggilnya selain dengan cara memberikan identitas, memberikan "embel-embel" sesuai dengan profesi mereka masing-masing. Yaitu embel-embel profesi yang mereka tekuni sampai bisa berangkat ke tanah suci. Mungkin terasa asing memang bagi pendatang yang tinggal di kampung saya, tapi itulah realitanya.

Misalnya; kaji ban berarti mereka bisa berangkat haji dikarenakan sukses dalam pekerjaannya sebagai tambal ban. Kaji sate karena sukses dengan jualan satenya. Kalau yang kaji punya latar belakang bagus sih nggak masalah, masih cukup aman untuk diberi julukan apapun. Tapi kalau yang latar belakangnya kurang bagus gimana dong? Misalnya kaji yang punya banyak kontrakan yang notabenenya dijadikan rumah bordil (tempat palacuran)? kira-kira julukan apa yang pas? anda punya ide?

14 Desember 2007

Toilet Cewek



Jika kamu seorang cowok dan kamu berada di toilet cewek--di kantor tempat kamu bekerja, saat jam kerja sudah selesai (malam hari). Apa yang akan kamu lakukan? (Sungguh pertanyaan aneh dan tidak penting dipertanyakan). Gini, biar saya coba jawab sendiri aja yak?!!

Kalau saya seorang arsitek, saya akan memperhatikan dan mempelajari dimanakah letak perbedaan antara desain ruangan toilet cowok dan cewek. Misalnya; Ruangan harus dirancang sedemikian rupa supaya orang yang masuk merasa nyaman dan betah berlama-lama. Cewek suka berdandan, maka kaca besar dan lampu yang terang perlu disediakan. Kebersihan dapat diciptakan dari warna cat atau wallpaper yang melekat pada dinding.

Kalau saya seorang tukang pembersih, saya akan menutup mata dan menahan napas untuk beberapa detik. Pasalnya, saya tahu bahwa di kotak itu isinya pasti banyak pembalut wanita habis dipakai. Bisa membayangkan aromanya? Weleh-weleh…


Kalau saya adalah si tangan panjang
, maka saya akan mencari barang yang masih bisa dimanfaatkan. Mungkin di sudut ruangan ada barang-barang yang ketinggalan. Atau minimal dapat tisu gulungan buat pelengkap kamar kos-kosan.

Dan, kalau saya seorang Presiden Direktur atau orang yang menduduki posisi strategis di perusahaan, maka saya akan segera keluar dari toilet cewek dan mencari toilet cowok meskipun terpaksa harus mengantri—seperti biasa. Saya khawatir ketahuan orang lain dan disangka ada yang tidak beres dengan diri saya. He he he

Tulisan di atas hanya kreatifitas saya belaka, mohon maaf jika ada kesamaan kejadian dengan pengalaman pribadi anda. Hehehe

10 Desember 2007

Kebebasan

Udah pada tahu kan kalo di Nusa Dua, Bali, bulan Desember ini sedang diselenggarakan UNFCCC (United Nations for Climate Cahnge Conference)? Disana sedang seru-serunya membahas isu pemanasan global dan bagaimana mengatasinya. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, sekumpulan mahasiswa di Jakarta, beberapa hari kemarin, justru sedang berkumpul untuk mengkritisinya; "jangan-jangan apa yang sedang dilakukan oleh mereka di Bali hanya bualan belaka dan tidak ada tindakan nyata". Kurang lebihnya mungkin seperti itu.

Memang enak jadi mahasiswa di jaman sekarang, bisa meneriakkan gagasan yang mengganggu pemikiran kita. Nggak kayak saat jaman orde baru yang sangat membelenggu kebebasan kita. Orang mau bergerak sedikit sudah disikut, mau berbicara sedikit sudah disumpal, apalagi mau melawan. Sudah berani ya sama yang petugas yang megang senapan? Itu sih dulu..., padahal itu benar-benar melanggar hak asasi manusia.

Hari ini kita bebas meluapkan ekspresi asal tahu aturan dan etikanya. Ekspresi yang dimaksud adalah kebebasan untuk mengkritisi segala kebijakan yang dilakukan oleh birokrasi. Tidak perlu takut sama aparat, tidak perlu pake topeng atau bersembunyi di belakang serambi. Nggak usah malu untuk berkata tidak. Kebebasan itu bisa kita wujudkan dalam bentuk aksi nyata, misalnya unjuk rasa, melalui aktifitas menulis di media, buku, blog (seperti sekarang ini), atau melalui aktifitas berkesenian, kampanye dan sebagainya.

Sebagai masyarakat Timur, mungkin kita akan sangat malu kalo unjuk rasa dengan cara telanjang. Di Indonesia secara umum, cara seperti ini mungkin akan dianggap aneh (baca: gila) oleh masyarakat awam, bahkan mungkin aparat tidak segan-segan akan segera menindak. Tapi, kalo di Bali--karena di sana banyak warga asing yang berwisata--justru sudah terjadi. Banyak bule yang ikut aksi mengusung isu global warming dengan mengenakan pakaian pantai yaitu bikini. Lha iyalah, orang mereka sedang ada di pantai. He he he..., Ratusan orang berdiri melingkar membentuk bumi dunia. Kebetulan saya sempat melihat fotonya yang diambil dari atas (mungkin yang motret saat itu naik pesawat terbang).

So what?? jangan siksa diri kita memendam semua rasa; gara-gara nggak sependapat dengan orang lain. "Luapkan semuanya dan angkat tangan kiri kita!!". Simbol bahwa kita melakukan perlawanan. Kalo jiwa perlawanan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, niscaya kita terbiasa untuk bersikap kritis dan analitis.

Di beberapa lokasi dekat tempat saya bekerja terpasang spanduk KPK yang berisikan himbauan agar kita melaporkan jika terjadi tindak korupsi. Pemerintahan sekarang begitu semangat untuk mengajak segenap masyarakat--memberangus korupsi dengan mengajak aktif warga Ibukota pada khususnya. Upaya yang bagus untuk saat ini. Rupanya birokrasi sudah berani untuk ditelanjangi sendiri. Sampai kapan?

04 Desember 2007

Nama anak seorang desainer

Ada cerita di sebuah milis--yang sampai sekarang saya ikuti. Ada seorang desainer grafis yang mempunyai dua anak. Nama mereka diambil dari keseharian seorang Bapaknya yang notabenenya sebagai desainer, misalnya tentang hal-hal yagn berhubungan dengan warna, huruf, atau komputer. Anak pertama dia kasi nama Magenta. Anak kedua dikasi nama Cyanta. Dan anak ketiga dia nanya ke forum. "kira-kira nama yang bagus apa ya?", dia bilang gitu.

Dalam forum itu banyak sekali orang yang mengusulkan. Diantaranya adalah:
(1) Kalo cewek kasi nama Cahyani Menik Yuliani Kusumawarni (CMYK), kalo cowok bisa Raden Gusti Babon (RGB)
(2) Apple aja.
(3) Jangan apple, kesannya aneh. Gimana kalo Intel aja
(4) Namanya Control Zet ajah, biar dia selalu bisa retropeksi dan memperbaiki kesalahan
(5) Biar terkesan abadi gimana kalo kasi nama Arial atau helvetica?

tapi ada salah satu orang yang sedikit khawatir, ntar malah anaknya kalo udah gede malu dapat nama yang aneh.
(6) Mending pake bahasa yang diambil dari sansekerta aja yang konon bagus-bagus. Misalnya Jagat Dewandaru..., Mahendra Dewa..., Sekar Arum ..., Tosan Aji... dsb

Saya juga tidak mau kalah, kemudian saya mengusulkan...
(7) Kasi nama "Mail". kependekan dari Ismail. Kalo emang dapet yang cowok sih. Ismail kan nama yang bagus. Kayak nama nabi

he he he

25 November 2007

Arti sebuah nama

Sebuah nama berarti penting untuk diketahui dan dikenal di kemudian hari. Nama saya usman yulianto. Kalau di dunia akademis (kecuali saat kuliah) saya dipanggil usman. Padahal kalau di rumah saya dipanggil anton. Entah nama ini pemberian dari siapa. Orangtuaku pernah sih cerita tapi aku dah lupa lagi hehehe...

Konon, kalau namanya Cecep atau Lilis biasanya berasal dari daerah Bandung atau Jawa Barat-an lah. Nah, tadi pagi ibu kost saya--yang baru--mengira saya berasal dari Toraja (kalo nggak salah sih). Ada-ada aja. Mungkin dia sengaja bicara seperti itu sekedar untuk membuka pembicaraan. Lha wong temen saya aja yang namanya Lilis tadi malah tinggal di Pasuruan. Tapi kayaknya dia ada darah Bandung juga sih.

Seumur hidup ini saya punya temen yang nama panggilannya Lilis baru ada dua orang. Mungkin nggak terlalu umum nama itu dipakai. Nama-nama seperti Adi, Budi, Udin itu yang paling banyak memakan memori otak saya. Tauk deh, kenapa nama-nama yang barusan saya sebutkan tadi mempunyai cerita yang unik. Rata-rata mereka selalu nakal, banyak tingkah , tapi juga banyak teman. Saking nakalnya biasanya mereka sering menjadi pusat perhatian dan sering mendapat perlakuan khusus (baca: hukuman) dari guru yang sedang mengajar.

Si Udin (temen SD).
Saya sudah lupa nama lengkapnya siapa, tapi kalau di kampung dia mendapat nama julukan, yakni "klince". Dulu saya sempat akrab dengan dia waktu masih di bangku sekolah. SMP dan SMA sudah jarang main bareng, padahal masih satu kampung. Saat saya kuliah, ada kabar bahwa si Udin "Klince" ikut grup musik yang paling digemari masyarakat. Apa hayo? coba tebak?! dia ikut Dangdut. Saat tujuhbelasan kemarin saya kebetulan dapat job motret. Eh si Udin "Klince" malah asyik mainin gitarnya. CLICK!!!

Si Udin (temen SMP)
Semasa SMP, saya punya dua nama Udin. Yang satu Udin "gendut" dan satunya lagi Udin "Endang" (maksudnya Endang itu karena perilakunya kayak perempuan). Udin yang kedua mempunyai hobi nyanyi. Dulu kalau nyatet di buku tulisannya paling bagus. Sampe sekarang masih jadi bahan guyonan temen-temen. Kabarnya dia sekarang ada di Jakarta. Kalau nggak salah dia sering dapat job untuk jadi MC. "Yuuk!". Kalau Udin "gendut" orangnya rapi banget, perilakunya bagus. Top banget deh. Tidak banyak tingkah, tidak banyak masalah dan relatif di posisi aman.

Si Udin (temen SMA)
Dia jadi tempat curhatku, tempat sampahku. Lho??! iya, soalnya aku sering kalo marah dia jadi sasaranku. Hahaha. Orangnya suka guyon, banyak temen, sederhana dan yang paling kuacungi jempol dia rajin sholat. Tidak pernah ada kata-kata kotor keluar dari mulutnya kecuali guyon. Hehehe. Bisa aja dia bikin ulah. Sekarang dia kerja di Sidoarjo, sebuah tempat yang melayani jasa percetakan. Sukses ya bro!!

Si Udin (temen kuliah)
Kayaknya nggak ada deh. Justru nama-nama asing yang kudapatkan di sini. Kalo yang namanya mirip sama Udin siapa ya?? oya, ada Dino, Doni, Didik, Dina, Ony.

Si Udin (temen kerja)
Hehehe... suaranya loetjoe (baca: lucu). Belom kenal-kenal amat sih. Dia seorang layouter. Wajahnya sepertinya pernah kulihat, tapi dimana ya? mungkin di buku-buku komik ada yang mirip. Dia kalo manggil aku bukan anton tapi anto'. Huuuh!! nama dari mana lagi ini?

Nama itu penting untuk diingat dan dipelajari supaya kita bisa memahami identitas mereka. Sehingga pola komunikasi yang terjadi kemudian menjadi efektif dan sesuai dengan keinginan kita. ngerti nggak maksud saya? (jangan-jangan malah mbulet alias terlalu ilmiah bahasanya??)

15 November 2007

Jakarta Kota Siapa

Saya menginjakkan kaki ke Ibukota pada tanggal 24 Oktober 2007. Tanggal itu saya simpan rapi dalam catatan khusus di HP. Tujuannya cuma satu, supaya bisa diingat saja. Kalau beberapa bulan yang lalu saya ke Jakarta bersama seorang teman, sekarang saya memberanikan diri berangkat sendirian. Awalnya sih ada sedikit rasa-rasa khawatir saat perjalanan. Maklum saja, saya naik kereta ekonomi yang terkenal banyak penumpang dan juga pencopetnya. Apalagi saat itu pasca lebaran. Dari arah timur banyak yang menuju ke Barat.

Misi saya kali ini untuk adalah untuk bekerja--mencari nafkah. Sambil mencari informasi dan mencari pencerahan untuk masa depan saya. Barangkali banyak orang yang awalnya berpikiran sama seperti saya. Nekat ke Jakarta untuk menggapai cita-citanya. Hal yang sangat disayangkan adalah banyak orang awam datang ke Ibukota tanpa modal skill. Sehingga banyak mereka yang menjadi korban dan akhirnya hidup di jalanan. Di pinggiran kota atau di tempat-tempat yang menurut saya kurang manusiawi. Saya sepakat kalau Pemerintah membawa pulang mereka ke kampung halamannya. Mencari nafkah tidak harus mengorbankan harga diri, bukan?

Jakarta bagi pendatang adalah Surga sekaligus Neraka Dunia. Mengapa demikian? karena di Jakarta semuanya ada. Semuanya tersedia. Mulai dari yang baik sampai yang buruk pun semuanya ada di sini. Uang satu juta tidak ada artinya sama sekali. Mungkin hanya cukup untuk beberapa hari saja. Untung saya masih ada saudara dan beberapa teman yang bisa ditumpangi untuk sementara waktu. Kemudian mengapa disebut Neraka?? karena gaya hidup masyarakat Urban bisa dikatakan cukup kejam dan keterlaluan. Mereka sangat mencintai kehidupan dunia dan menghambur-hamburkan hartanya. Padahal sudah tahu kalo cari duit itu susahnya minta ampun. Kesenjangan sosial, cuek dengan orang-orang sekitar mudah sekali saya temukan. Beda sekali dengan masyarakat kampung. Saling menjatuhkan, mendepak, atau menjatuhkan orang lain barangkali juga sudah menjadi makanan sehari-hari bagi sebagian orang lain.

Sudah tiga minggu lebih saya ada di Jakarta. Baru sempat sekarang posting di blog. Bukannya gak sempat sih, cuma lupa aja kalau saya punya blog. Hehehe..., masalahnya kalau sudah ada di depan internet banyak hal yang ingin dibuka. Ya cari informasi lah, kirim email lah, atau sekedar browsing aja. Oke, kita kembali lagi pada permasalahan di atas.

Saya tidak tahu berapa populasi penduduk asli Jakarta dan berapa yangmenyandang status pendatang (seperti saya), baik itu yang mempunyai KTP atau belum/tidak mempunyai identitas sama sekali. Saya belum mendapatkan informasinya.

Sebagai seorang pendatang baru, tentu banyak aturan baru yang harus diketahui oleh pendatang (baik itu tertulis maupun tak tertulis). Untuk mengetahui apa saja kita bisa bertanya dan mencari informasi melalui orang yang bisa dipercaya. Jangan asal bertanya, karena akan dianggap bak keledai bodoh yang gampang sekali dipermainkan. Bisa jadi ditipu atau dijadikan korban kejahatan. Para pendatang itu berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Tapi di lingkungan tempat saya bekerja, yang paling sering saya temui justru dari daerah saya sendiri. Orang Jakarta menyebutnya dengan istilah "Jawa". Bukan orang Surabaya, Orang Semarang atau orang Jogja. Awalnya saya heran dengan istilah yang mereka pakai. Bukankah mereka (baca: orang Jakarta) juga hidup di Pulau Jawa? Ternyata dalam benak mereka, orang Jawa yang dimaksud adalah mereka yang berasal dari suku Jawa. Bisa jadi itu orang Gresik, Bojonegoro, Purbalingga, atau Tegal dan sebagainya. Dan selain suku Jawa bisa jadi suku Sunda, Madura, Betawi, Batak dan lain-lain.

Pedagang keliling yang menjajakan makanan dengan gerobak dorongnya kebanyakan berasal dari "Jawa". Entah apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Apakah mungkin karena populasinya memang paling banyak? saya tidak tahu. Mereka menjualnya mulai pagi hingga malam. Dimana-mana dengan mudah ditemukan. Ada nasi goreng, ketoprak, lontong/ketupat sayur, soto, sate, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Jangan tanya berapa harganya, karena di Jakarta bisa naik dua kali lipat. Mungkin dari situlah mereka mendapatkan banyak keuntungan, bisa memberi nafkah anak istrinya di kampung halamannya dan memberikan kabar kepada tetangga bahwa dirinya sukses di Jakarta. Apa yang terjadi kemudian? Satu persatu saudaranya diajak mengadu nasib di Ibukota, hingga menyusul tetangga kiri kanannya. Niatnya sih cuma ingin membantu, atau sekedar memberikan jalan keluar untuk memperbaiki ekonominya. Hingga satu kampung jumlah penduduk mulai berkurang, lalu ramai lagi di saat menjelang lebaran. Semua itu demi mengejar materi di Jakarta.

Jakarta, Ibukota Indonesia yang tidak pernah tidur. Sungguh sedih saya melihatnya. Akankah walikota Jakarta--yang baru beberapa bulan yang lalu terpilih--mempunyai solusi cantik untuk mengatasi berbagai permasalahan yang kian panjang dan tiada ujungnya ini? Tentunya dukungan dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu kelancaran programnya. Kemiskinan, kemacetan dan banjir adalah masalah kita bersama. Kalau saya tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Jakarta lebih baik saya pulang kampung dan menciptkan lapangan kerja di sana saja. Semoga!!