15 Maret 2008

Ruang Apresiasi



Ada yang bilang grafis karya saya makin hari makin mantap. Padahal saya lebih senang mendapat saran dan kritik daripada pujian. Mendapatkan pujian membuat saya stagnan. Sepertinya berhenti di tempat.

Justru dengan ketidakpuasan itulah semangat saya untuk berkarya selalu membara. Deadline yang mepet membuat saya terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat. Redaktur yang minta cepat tapi bagus mau nggak mau harus dituruti, meskipun ada beberapa kasus yang terkadang masih bisa dikompromi.

Berada di depan komputer mungkin kelihatan seperti sedang bermain. Bagaimana tidak, internet online (24jam nonstop), suara musik hingar bingar (kadang-kadang). Sebelah kanan suka nyetel musik cadas, sebelah kiri suka nyetel nasyid. Alamaaak!!. Tapi untung teman saya itu rukun-rukun aja.

Kembali lagi soal karya saya. Karena ingin banyak mendapat apresiasi dari banyak orang, maka saya memutuskan untuk membuat satu blog lagi yang sudah saya launching awal bulan maret lalu. Nama situsnya karyasaya.blogspot.com
Disana terpajang beberapa ilustrasi saya, mulai dari yang manual sampai digital.

Sekedar informasi, infografis kronologi di atas adalah kolaborasi antara saya untuk vector artist-nya dan satu teman saya untuk membuat sketsanya. Infografis tersebut akan diterbitkan di koran SINDO pada hari minggu, 16 maret 2007 halaman 9 Palembang.

13 Maret 2008

Usahlah Kau Menangis


"Sudahlah, usahlah kau menangis. Itu kan cuma film". Ujar Joko setelah dia mendengar lantunan soundtrack ayat-ayat cinta yang keluar dari sepasang loud speaker kecil di sisiku. "Ah kau ini, bilang aja kalau mau nonton juga. Nggak usah malu-malu", sahutku. Memang, saya tidak sampai mentikkan air mata melihat film itu. Tapi kepedihan dan kebingungan si tokoh utama bisa saya rasakan.

Memilih jodoh adalah hal yang tidak mudah. Islam yang menuntun kita untuk percaya bahwa Tuhan telah mengatur semuanya, mengajarkan kita untuk selalu berusaha--mendapatkan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan selanjutnya adalah pasrah. Percaya bahwa manusia tidak diberikan cobaan melebihi batas kemampuannya.

Sungguh, berbuat baik pada sesama muslim adalah sebuah kewajiban. Tapi saya tahu itu sulit dilakukan. Entah karena perasaan duniawi yang mendobrak nurani, ataukah karena ego tinggi yang kita miliki. Selain dari agama, ajaran dari kaum sosialis seperti Karl Marx pun juga demikian. Jadi, sekolah tinggi sampai di luar negeri--seperti dalam film yang saya lihat barusan itu--bukan jaminan untuk mendapatkan ketentraman hati. Jiwa yang suci hanya dimiliki si budi pekerti.

"Mas pesan grafis lima kolom ya, mas", ledek temanku yang tadi sambil pura-pura melucu. Niatnya pingin ganggu konsentrasi saya menikmati film itu.

Ingatan untuk mencintai sesama (muslim) masih membekas dalam diri saya. Oya, hari ini saya mau ngapain ya? hari ini kan liburan. Kenapa saya bisa dapat jatah libur hari kamis?? Memang, pekerjaan sebagai ilustrator media tidak bisa disamakan dengan pekerja kreatif yang lainnya (baca: agency periklanan, creative boutique, dll). Mereka bisa libur sabtu minggu. Artinya bisa melepas hari yang penat dengan meninggalkan rutinitas.

Ingin rasanya ada hari khusus dimana saya bisa menikmati dunia sembari berdzikir, mengagungkan nama Tuhan. Seringkali, saat ibu saya telpon, nasehat utamanya adalah jaga diri baik-baik selama di Jakarta, jangan lupa sholat lima waktu juga.

Bersyukur juga saya bisa menginjakkan kaki di lantai 22 gedung Bimantara ini. Lantai yang dihuni pekerja media yang selalu ramai memenuhi mushalla, ruangan kecil di pojok itu. Setiap pukul 18.30WIB mereka berkumpul mengambil air wudlu. Lalu merapatkan barisan dalam satu imam. Berjama'ah dan berdo'a bersama. Sungguh indahnya.

Apakah ini berlaku sama di semua orang yang bekerja di media? ataukah ini hanya sebuah fatamorgana belaka? mereka yang hanya ingin dekat dengan Tuhan karena tidak mau terjerumus dengan neraka Jakarta???

Saya tidak tahu. Saya juga tidak mau su'ud dhon (berprasangka buruk) dan menimbulkan fitnah. Karena dalam film ayat-ayat cinta tersirat pesan serupa. Oh, andai saja saya pemeran utamanya ....

12 Maret 2008

Antown in a Town


Ingin menjadi warga kota harus tahu banyak hal. Termasuk bagaimana cara menyantap sajian makanan. Saya jadi teringat saat semester awal di perkuliahan. Suatu malam saya bersama dua orang sahabat makan di warung. Maksud saya sebuah rumah yang dimodifikasi menjadi warung gitu. Tempatnya tdak jauh dari kontrakan saya.

Lalapan, sebuah menu hidangan khas mahasiswa Malang kita pesan. harganya murah meriah. Nggak sampai empat ribu perak sudah dapat satu porsi ditambah teh hangat. Lumayan, untuk mengisi perut yang kosong.

Pesanan kami sudah datang. Nggak pake lama kami segera menyantapnya. Di sela-sela makan itu, pelan-pelan obrolan ringan mulai keluar. Maklum, selain doyan sambal terasi kami juga doyan diskusi. Bahasa ilmiah sedikit banyak keluar dari mulut kita. Rasanya tak tertahankan. Dasar sok mahasiswa kala itu. Pedasnya sambal Mister Dragon (julukan teman-teman untuk pemilik warung) menambah seru suasana makan malam.

Anyway, waktu masih kecil dulu, orangtua saya pernah mengajari beberapa hal tentang atauran makan. "Kalau makan jangan berbicara ya...., ... kalau makan juga harus menggunakan tangan kanan". itu saja yang paling saya ingat. Saya pikir tidak ada salahnya untuk saya praktekkan dalam kehidupan saya sampai dewasa ini.

Akan tetapi malam itu saya melanggar aturan yang pernah diajarkan. Saya sadar sebenarnya. Saya berbicara saat makan. Oh, no! Tapi saya mendapatkan pelajaran yang juga lebih berharga saat itu. Yaitu tentang etiket perjamuan makan atau bahasa populernya disebut table manner.
"Ton!, kamu ini kalo makan kayak apa aja!!" semprot sahabat perempuan saya.
"Emang kenapa? ada yang salah??", tanya saya kebingungan.
"Cara makan kamu itu lho", jawabnya singkat.
"Iya knapa?" saya bingung dibuatnya.
"Masak cara mengunyah makanan kayak gitu. Kalu makan jangan dikecap. Jangan sampai terdengar kecapan dari mulutmu", jelasnya halus. "nggak sopan kalo kamu kayak gitu, Ton!", tambahnya lagi.

Untung dia sahabat saya, jadi tidak ada masalah dengan apa yang barusan dia katakan. Niatnya baik, ingin mengajarkan cara makan yang benar.

Saya mengiyakan saja. Karena saya salah dan ingin belajar dari kesalahan. Apa yang dikatakan sahabat saya itu ternyata benar. ketika ada kesempatan ke Surabaya, saya memperhatikan cara makan orang-orang di sekitar lingkungan saya. "Celaka, sudah sekian tahun ya cara makan saya seperti mereka?? kelihatan kampungan banget?!", keluh saya dalam hati. Sepertinya saya berhutang budi pada sahabat saya yang sudah mengajari ilmunya. Saya harus berterima kasih kepada dia.

Memang sih tidak wajib menerapkan hal tersebut pada jamuan makan, cuma akan ada sanksi sosial jika kita tidak tahu aturan mainnya. Apalagi saat makan dengan orang-orang kota. Bisa jadi gara-gara hal sepele tersebut orang lain akan menganggap kita kurang berpendidikan. Oalah... gitu ta?

Ya sudah..., itu hanya cerita singkat saya. Sekarang ayo temani saya makan disana. Yuk!! Ora usah isin dadi wong ndeso urip nang kuto (tidak usah malu jadi orang desa yang hidup di kota)

11 Maret 2008

Aspal (asli tapi palsu)


Saya berdiri di depan ATM. Di sebuah lorong yang kemudian banyak orang menyebutnya sebagai plaza. Mungkin karena tempatnya yang rada mewah. Saya masih (belajar) antri dengan tiga orang di depan saya.

Orang paling depan berbagi tempat dengan kekasihnya. Urutan kedua seorang warga keturunan yang dari gerak-geriknya sepertinya kebanyakan uang. Lalu belakangnya lagi (persis di depan saya) seorang pemuda sedikit tergesa-gesa. Transaksi cepat sekali dia lalui. Mungkin ATM-nya kosong karena belum ditransfer.

Giliran saya tiba. Enam digit nomor pin saya masukkan. Transaksi baru saja dimulai. Keluar beberapa lembar uang, tidak begitu banyak. Uang pertama yang berwarna biru itu keluar. Ciluk baa!! Begitu mengejutkan saya karena uang tersebut telah dicoret oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Padahal, tadi saya mengira akan mendapatkan uang yang masih bagus dan kinyis-kinyis (buh!! bahasa apaan tuh).

Oknum kreatif yang menorehkan tinta di atas uang kertas sudah lama ada. Mungkinkah saya salah satunya? (hmmm...) Saya masih ingat beberapa tahun silam. Saya menemukan sebuah uang dengan tulisan beberapa kalimat. Sepertinya sih surat cinta gitu. Lain hari saya menemukan ada nama orang lengkap dengan nomor teleponnya. Saya bertanya dalam hati, apakah uang juga menjadi media komunikasi kala itu? dimana hp masih sangat jarang yang punya??

Kalau saja gambar yang di uang bisa kita ganti dengan foto kita, mirip template di blog. Mungkin banyak orang narsis yang tertarik untuk menempel muka manis. Jangan ah!! uang kan termasuk karya seni. Mending yang seneng gambar uang ikut sayembara desain uang saja. Buat yang bagus dan tidak mudah ditiru. Siapa tahu Deputi Bank Indonesia tertarik hehe. Jangan kayak uang yang kita pakai sekarang. Banyak yang aspal (asli tapi palsu).

Sebel...

06 Maret 2008

Tikus Bagus Jangan Diberangus



Tikus selalu membuat ulah dimana saja. Apa saja dimakan. Mulai dari kertas, plastik, hingga makanan yang kita makan. Tidak heran jika kita lihat sosok si tikus akhirnya dihubung-hubungkan dengan kelakuan bak koruptor di negeri ini. Mereka makin menjamur, tumbuh subur tidak hanya di kota-kota besar. Kota kecil juga menjadi incaran.

Berarti tikus binatang parasitisme dong? eitsss, jangan dulu ambil kesimpulan. Terlalu dini kalo ambil kesimpulan seperti itu sebelum baca lanjutan paragraf di bawah.

Tikus memakan apa yang mereka lihat. Tubuh yang sudah gendut tidak membuat mereka berhenti untuk memakan apa saja, kecuali makan kucing. Ngggak mungkin banget!! dan akhirnya tikus yang sudah mewabah dibasmi dengan cara apapun. Di sawah mereka dicari, di rumah mereka juga dibantai. Kucing selain sebagai binatang peliharaan (pets animal) sekaligus menjadi satpam rumah. Kali aja tikus yang nakal dan membuat onar. Hmmm..., perasaan tikus gak ada yang baik ya.

Merugikan memang. Tapi tikus juga diburu untuk disulap menjadi uang. Bagaimana caranya? daging tikus diburu dan diolah menjadi pengganti daging. Harga daging (sapi) yang kian meroket membuat orang harus berpikir lebih kreatif. Dagangan penjual tidak akan ada yang membeli kalo harga jualnya mahal. Barangkali seperti itu alasan mereka.

Berdasarkan data yang saya peroleh di situs beritajakarta.com harga satu kilogram daging sudah tidak karuan. Dari Rp55.000/kg berubah menjadi Rp60.000/kg. Itu terjadi beberapa minggu yang lalu. Kalo sekarang saya mah nggak tau. Saya bukan penjual daging, mas

Yup!! hubungannya tikus dengan dunia saya apa hayo? coba tebak! sebagai ilustrator yang pekerjaannya bermain dengan gambar, beberapa model tikus pernah saya buat di infografis. Tikus berarti menggambarkan kebejatan moral pemimpin bangsa kita. Makin banyak koruptor makin banyak tikus yang akan menghiasi halaman koran yang akan kita lihat. Bosen ya? sebenarnya iya sih.

Saya tidak terlalu suka dengan perilaku si tikus. Saya tidak bisa bergaul dengan si tikus. Saya butuh tikus model baru untuk menceritakan koruptor yang hari ini kian kreatif itu. Mmm, dapet darimana ya?

Tikus yang dikategorikan sebagai binatang pengerat memang menjadi musuh banyak orang. Tapi tidak semua predikat buruk disandang oleh tikus. Di Indonesia, ada tanaman ajaib yang terbukti bisa mengobat berbagai jenis sel kanker, nama tanaman itu adalah "keladi tikus". Hihihi, lucu bukan?

Anyway, tikus ternyata juga membantu dunia medis. Tikus sering menjadi bahan percobaan untuk berbagai penelitian. Kalo nggak tikus ya kelinci. Kata orang sih pada tubuh tikus terdapat beberapa hal yang mirip dengan tubuh manusia. Maka jangan heran kalo ada orang mati karena minum obat. Bisa jadi obat tersebut belum diujicobakan pada tikus.

"Punya tikus bagus nggak, bos??", kata saya pada ilustrator di samping saya di sela-sela proses kreatif pembuatan grafis.

05 Maret 2008

Vignetic



Saya tidak tahu kenapa blog saya dua hari terakhir berisi karya (eksperimental) saya. Blog mungkin penyelamat untuk sementara, coz saya khawatir begitu semua file di komputer dihapus maka arsip saya akan hilang selamanya.
Kalo di blog saya pikir juga tidak ada masalah. Orang bisa menikmati (kalo menyukai) dan mencaci maki (kalo membenci) karya saya.

Suka dengan karya saya?? copy saja, saya persilakan kok. Tapi mohon untuk tidak dikomersilkan

04 Maret 2008

Yasinan Tiga Kali


"Mas, malam ini baca Yasin tiga kali ya? buat nolak bala' katanya", jelas bulekku. "Yasin, yasin, yasin. Udah kan?", aku balik menjawab
"Buka gitu...", sahutnya
...

Membaca surat yasin pada hari-hari tertentu bagi orang NU adalah hal yang penting. Mereka percaya bahwa membaca surat yasin banyak keutamaan yang bisa mereka dapatkan. Misalnya untuk menolak bala' atau musibah yang akan menimpa kita.

Pada hari kamis misalnya, makan sunan ampel--yang menjadi kawasan wisata religi di Surabaya--pasti dipenuhi oleh ratusan peziarah yang berasal dari berbagai daerah. Sebagian besar masih wilayah Jawa Timur. Kalo jum'at legi, atau malam ganjil di bulan Ramadlan tempat itu seperti sarang semut. Entah berapa ratus ribu orang yang kumpul disana. Numplek blek kata orang Jawa.

Semua orang yang ingin merayakan malam istimewa di bulan suci memilih ampel sebagai tempat yang pas untuk mendekatkan diri kepada sang Khalik. Tidak hanya makam sunan ampel yang mereka tuju, beberapa orang yang dianggap syekh juga mereka kunjungi. Kalo mau ngantri wudlu barangkali harus bersabar karena, panjangnya tidak kalah seperti kita antri tiket di loket bioskop.

Kian malam kian banyak jumlah peziarah yang datang. Sebanding dengan konser Peter Pan mungkin. Sayang, tempatnya yang sempit membuat kita terkadang ingin menjerit. Berjubel-jubel saat mau masuk atau keluar.

Baiklah, pertanyaan sekarang apakah kita mengetahui arti yasin itu sendiri. Apa terjemahan dari yasin? kandungan secara tekstual? secara harfiah yasin tidak ada artinya. "Hanya Allah yang Maha Tahu", begitu kata mereka yang pernah belajar terjemahannya.

Yasin dibaca tiga kali? pernahkan kita melakukannya? ah sudahlah...., gak perlu dikritisi lagi. Kalo hati kita sudah yakin dan mantap kita lakukan saja.

Untitled 01


Saya buat karya ini dengan teknik manual dengan sedikit sentuhan Adobe Photoshop CS2. Coloring menggunakan mode luminosity. Saya belum ada judul yang pas, karena proses pembuatannya tadi iseng dan coba-coba saja. Karena saya suka hasil akhirnya, ya saya upload deh.

Saran dan kritik terbuka...

02 Maret 2008

Anak Menteng yang Tidak Mentereng


Jalan Matraman Dalam adalah tempat tinggalku sekarang. Sebuah tempat yang menurutku cukup strategis karena letaknya yang masih di tengah Kota. Akses ke stasiun dan terminal cukup dekat.

Saya pilih lokasi di daerah ini karena tempatnya ada di dalam kampung. Suara bising motor tidak lagi mengepung. Istirahat jadi lebih tenang, meskipun cuma sekedar rebahan beberapa jam.

Tapi kekurangan pasti ada saja. Beberapa penjual makanan yang lalu lalang menjajakan makanannya justru memasang harga yang agak tinggi. Sementara warung makanan hanya bisa ditemukan di luar sana, dekat dengan jalan raya. Kita harus berjalan kaki atau naik motor dulu.

Terserah orang mau bilang kost saya seperti apa, tapi untuk sementara saya masih betah. Ada pembantu yang rajin bersih-bersih tiap pagi dan sore. Tanaman hijau juga masih terawat, artinya obat stress tidak perlu dicari jauh-jauh. Kalau saya harus ke tempat dugem bisa tambah stress lagi.

Jakarta bukan tempat untuk tidur atau bersantai. Jakarta tempat bekerja dan mengembangkan usaha. Maka cari kost di Jakarta bagi saya cukup yang sederhana saja. Belum butuh parkir mobil atau yang ada fasilitas lapangan tenis atau kolam renangnya. Nyuci dan setrika masih bisa saya lakukan sendiri.

Pernah saya iseng cari kost di dekat tempat saya bekerja di kawasan Menteng. Saat itu masih beberapa minggu menjadi karyawan baru. Saya menemukan kost yang sesuai dengan kategori saya; tidak jauh, banyak penjual makanan, dan dekat sama masjid. Saya masuk dan tanya-tanya fasilitasnya.

"Kalo disini mas, ada spring bednya, lemari bagus, kamar mandi shower, dan gratis cuci setrika. Mas juga bisa kok pulang malam", jelas penjaga kost panjang lebar.
"Ooo iya, bagus itu. Tapi harganya berapa ya untuk kamar yang biasa?", tanya saya.
"Kalo yang biasa itu harganya Rp800.000/bulan", jawabnya lagi.
"Yaudah, mas, terima kasih ya".

Saya segera meninggalkan tempat itu. Tidak tertarik nanya berapa harga sewa kamar yang ada AC-nya. Busyet! uang delapan ratus ribu buat ngekost trus saya makan daun, apa?

Tapi saya tertarik (lagi) setelah ngobrol sama seorang teman beberapa hari yang lalu. Dia dapat kost baru, campur cowok cewek, harganya juga tidak terlalu mahal. Cuma tiga ratus ribu doang, harga standar untuk ukuran Jakarta. Tahu nggak tempatnya dimana? tempatnya di jalan jaksa, tempat yang terkenal banyak rumah makan murah.

Selain itu tempat ini juga menjadi kawasan wisata (malam), tempat nikmat bagi mereka yang doyan hiburan duniawi. Mulai dari yang gay, lesbon, sampai yang bule ada.

Hmmm, besok pindah kost nggak ya? Enggak ah. I love Matraman very much.

01 Maret 2008

Cuma Empat Menit


Ngaku orang Indonesia? pasti kita kenal sama Aming. Pelawak kelahiran Bandung ini memang total dalam berkarya. Dalam ajang Panasonic Award yang lalu dia berhasil menyabet gelar sebagai pelawak terfavorit (kapanlagi.com).

Kenal juga sama Ahmad Dhani? pentolan grup band Dewa ini memang seniman yang serba bisa. Nyanyi jago, main musik jago, bahkan ngedesain cover album pun jago. Saya menyebut dia seniman serba bisa. Di dunia infotainment, sosok Dhani selalu jadi incaran. Bahan yang asyik untuk tema obrolan ibu-ibu gosipers.

Lalu pernahkah kita mengingat nama orang yang belum terkenal? Misalnya nama teman satu kantor kita (dalam satu ruangan saja)? hal yang rada sulit bagi saya adalah mengingat kembali nama nama-mereka, apalagi kalau baru saja kenalan. Kali ini saya akan mencoba menyebutkan nama-nama mereka dan menghitungnya dalam menit. Seberapa cepat daya ingat saya. Semoga saya tidak mengalami kendala.

Oke, asep, udi', mas tyud, memey, boby, tony, giant, arip, pak wishnu, pak jessy, kenthung, mas pepeng, edi, pak bona, indro, udin, indra, si jun, qomar, mas bay, joko, gendut, naip, pak agus, pak totok, togar, gondrong, pak taka, siapa lagi ya??? waduh saya lupa.

Nama-nama mereka saya sebutkan dimulai pukul 03.42WIB-03.46WIB, artinya saya memerlukan waktu empat menit untuk mengingat 29 nama orang. Lemot nggak ya? coba sekarang kalian coba sendiri permainan ini.